Tuesday, February 3, 2015

Miyamoto Musashi


Miyamoto Musashi (宫本 武 蔵), diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1584, atau ada versi lain yang menyebutkan ia lahir 19 Mei 1586 di sekitar masa akhir Oda Nobunaga , Nama aslinya adalah Shinmen Takezo. Kata Musashi merupakan lafal lain dari "Takezo" (huruf kanji bisa memiliki banyak lafal dan arti). Musashi memiliki nama lengkap Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin. Musashi juga dikenal dengan nama Miyamoto Bennosuke (Panggilan masa kecilnya), atau oleh nama Buddha Niten Dōraku. Nama Miyamoto sendiri adalah nama kuno sebuah daerah di barat daya Tokyo. Nama No Kami berarti kaum bangsawan daerah setempat. Pada umumnya, Fujiwara adalah nama asal dari keluarga leluhur para bangsawan di Jepang yang diturunkan ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang keluarga Musashi (Hirada/Hirata) adalah keturunan keluarga Shinmen, penguasa di Kyushu, pulau bagian selatan Jepang.
potret diri musashi
Ayah Musashi, Munisai Hirata, meninggal ketika ia diperkirakan baru berusia 7 tahun. Setelah ibunya kemudian juga meninggal, maka Musashi kemudian ikut paman dari pihak ibu. Dengan demikian, ia sudah yatim piatu ketika Toyotomi Hideyoshi menyatukan Jepang pada tahun 1590. Tidak jelas apakah keinginan bermain Kendo adalah berkat pengaruh pamannya ataukah keinginan Musashi.

Musashi adalah seorang ronin, seorang seniman pedang Jepang dan mengembangkan gaya sendiri.Secara keseluruhan , Musashi telah melakukan 60 duel dan tidak terkalahkan. Dia adalah pendiri Hyōhō Niten Ichi-ryu atau Niten-ryu gaya pedang dan penulis Kitab Lima Elemen – The Book Of Five Rings (五 轮 书, Go Rin No Sho), Sebuah buku mengenai strategi, taktik, dan filsafat yang masih di pelajari banyak orang hingga saat ini.

Musashi merupakan legenda hidup sehingga kisah hidupnya merupakan kombinasi fakta sejarah dan mitos. Dalam bukunya sendiri Musashi mengatakan dirinya lahir di provinsi Harima. Sejarahwan Kamiko Tadashi menyebut Musashi adalah kelahiran Mimasaka , distrik Yoshino dan desa Miyamoto. Musashi dalam bukunya juga menjuluki dirinya sebagai “Shinmen Musashi no Kami Fujiwara no Genshin.” Ayahnya, Shinmen Munisai 新 免 无二 斎, adalah seniman yang cakap dan menguasai bela diri pedang. Munisai, adalah anak dari Hirata Shōgen 平 田 将 监, seorang pengikut Shinmen Kami, penguasa Benteng Takeyama, di distrik Yoshino Provinsi Mimasaka. Hirata ini diandalkan oleh Klan Shinmen, dan juga diperbolehkan menggunakan nama Shinmen.

Nama “Musashi” diperkirakan dan diambil dari nama seorang biarawan bernama Musashibō Benkei yang bertugas di bawah Minamoto no Yoshitsune, tapi ini belum dikonfirmasi. Dikatakan bahwa ada kemungkinan bahwa Musashi belajar bela diri di perguruan Ryu Yoshioka. Dalam buku Eiji Yoshikawa , nama Musashi diambil dari kanji aslinya sendiri, yang dapat dibaca 武 蔵 sebagai Takezo atau sebagai Musashi. Dan itu merupakan nama pemberian seorang wardlord pro Tokugawa setelah Musashi menjalani masa hukuman selama beberapa tahun. Guru spiritualnya adalah Takuan Soho. Itu menurut versi roman Eiji Yoshikawa.

Dalam bukunya Go Rin No Sho (The Book Of Five Elements) , Musashi menyatakan bahwa duel pertama pada usia tiga belas tahun melawan samurai bernama Arima Kihei yang penganut gaya Shinto-ryu dari Kashima. Gaya yang didirikan oleh Tsukahara Bokuden (b. 1489, d. 1571).

I have trained in the way of strategy since my youth, and at the age of thirteen I fought a duel for the first time. My opponent was called Arima Kihei, a sword adept of the Shinto ryū, and I defeated him. At the age of sixteen I defeated a powerful adept by the name of Akiyama, who came from Tajima Province. At the age of twenty-one I went up to Kyōtō and fought duels with several adepts of the sword from famous schools, but I never lost.—Miyamoto Musashi, Go Rin No Sho

Sumber lain adalah buku “Lone Samurai” oleh Scott Wilson , sebuah buku yang cukup komprehensif menelusuri Musashi baik dari sisi sejarah maupun mitos. Musashi di katakan menantang Arima Kihei yang sedang melakukan perjalanan untuk mengasah ketrampilannya.

Musuh pertama Musashi ditemuinya ketika ia baru berusia 13 tahun. Ia adalah Arima Kihei, samurai perguruan Shinto Ryu bidang seni militer yang terampil bermain pedang dan tombak. Musashi mengalahkannya dengan cara melemparnya ke tanah dan memukulnya dengan tongkat, sehingga musuhnya tersebut mati berlumuran darah.

In 1596, Musashi was 13, and Arima Kihei, who was traveling to hone his art, posted a public challenge in Hirafuku-mura. Musashi wrote his name on the challenge. A messenger came to Dorin’s temple, where Musashi was staying, to inform Musashi that his duel had been accepted by Kihei. Dorin, Musashi’s uncle, was shocked by this, and tried to beg off the duel in Musashi’s name, based on his nephew’s age. Kihei was adamant that the only way his honor could be cleared was if Musashi apologized to him when the duel was scheduled. So when the time set for the duel arrived, Dorin began apologizing for Musashi, who merely charged at Kihei with a six-foot quarterstaff, shouting a challenge to Kihei. Kihei attacked with a wakizashi, but Musashi threw Kihei on the floor, and while Kihei tried to get up, Musashi struck Arima between the eyes and then beat him to death. Arima was said to have been arrogant, overly eager to fight, and not a terribly talented swordsman.—William Scott Wilson, The Lone Samurai

Ketika ia berusia 16 tahun, Musashi mengalahkan lawan berikutnya, dan sejak itu ia kabur dari rumah dan terlibat dalam berbagai kontes pertarungan dan peperangan sampai ia berusia 50 tahun. Musashi mengembara keliling Jepang dan menjadi legenda. Berbagai musuh terkenal pernah dikalahkannya, antara lain samurai-samurai keluarga Yoshioka di Kyoto, jagoan ilmu tongkat kondang Muso Gonosuke di Edo, bangsawan Matsudaira di Izumo, dan Sasaki Kojiro di Bunzen.

Perang Sekigahara
Salah satu peperangan terkenal yang sering dikatakan melibatkan Musashi adalah Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600, antara pasukan Tokugawa Ieyasu dan pasukan pendukung pemerintahan Toyotomi Hideyori, dimana ribuan orang tewas terbantai dalam peperangan itu sendiri dan pembantaian sesudahnya oleh tentara pemenang perang. Saat itu Musashi memihak pasukan Toyotomi Hideyori (anak dari Toyotomi Hideyoshi).

Wafatnya Hideyoshi Toyotomi meninggalkan kemelut politik di Jepang. Ishida Mitsunari , Toshie Maeda , Tokugawa Ieyasu adalah salah satu dari lima orang kepercayaan Hideyoshi. Pada masa ini lah Musashi meninggalkan desanya dan mulai bertualang. Jepang mulai terbagi dua kubu , barat dan timur. Barat adalah pro klan Toyotomi dipimpin oleh Ishida Mitsunari. Pasukan Timur di pimpin oleh Tokugawa Ieyasu. Dan meletuslah Perang Sekigahara, sebuah perang frontal yang akan menentukan sejarah Jepang di kemudian hari. Musashi terlibat dalam perang Sekigahara sebagai klan Shinmen yang pro Barat. Tapi keterlibatan Musashi tidak disebutkan dalam Go Rin No Sho. Dalam Eiji Yoshikawa , keterlibatan Musashi dan sobatnya , Matahachi meru

Versus Perguruan Yoshioka
Setelah pertempuran, Musashi menghilang dari catatan untuk sementara waktu. Catatan menyebutkan bahwa Musashi tiba di Kyoto pada usia 20, di mana ia mulai terkenal setelah memulai serangkaian duel melawan Perguruan Yoshioka. Ayah Musashi, Munisai, juga berperang melawan master Yoshioka dan memenangkan 2 dari 3 di depan shogun pada waktu itu, Ashikaga Yoshiaki dan Munisai diberi gelar “Terbaik di Jepang”.

Perguruan Yoshioka adalah satu dari delapan perguruan terkemuka dari seni bela diri di Kyoto, “Kyo-ryu” / “Sekolah Kyoto”. Legenda mengatakan bahwa delapan sekolah ini didirikan oleh delapan biksu dan diajarkan oleh seniman bela diri legendaris di Gunung Kurama suci. Keluarga Yoshioka juga mulai mengembangkan bisnis tekstil disamping ilmu pedang mereka yang terkenal Di beberapa titik, keluarga Yoshioka juga mulai membuat nama untuk dirinya sendiri bukan hanya dalam seni pedang, tetapi juga dalam bisnis dan tekstil untuk pewarna unik bagi mereka. Dokumen Klan Yoshioka menyebutkan fakta berlainan dengan hanya mencatat pertarungan Yoshioka Kempo melawan Musashi. Dan Musashi kalah.

Musashi menantang Yoshioka Seijuro, master Perguruan Yoshioka, untuk berduel. Seijuro menerima tantangan itu, dan mereka setuju untuk berduel di luar Rendaiji di Rakuhoku, di bagian utara Kyoto pada 8 Maret 1604. Musashi datang terlambat, dan ini sangat menjengkelkan Seijuro. Mereka berhadapan, dan Musashi menyerang satu pukulan yang menghantam bahu kiri Seijuro . Seijuro kalah telak.

Pertarungan Musashi berikutnya melawan Yoshioka Denshiciro yang berniat membalas dendam kekalahan saudaranya. Dan Musashi datang terlambat dan memenangkan pertarungan untuk kesekian kalinya. Terjadi krisis suksesi kepemimpinan perguruan Yoshioka yang akhirnya jatuh ke bocah 12 tahun , Yoshioka Matashiciro. Kali ini Klan Yoshioka berniat melakukan keroyokan dengan melibatkan pemanah , penembak dan pemain pedang di Ichijoji.

Musashi kali ini datang lebih awal, bertempur melawan sekitar 50 samurai, dan pertempuran tersebut dimenangkan oleh Miyamoto Musashi dengan teknik dua pedangnya dan menewaskan Matashiciro sambil melakukan pelarian diri dari keroyokan puluhan anggota Klan Yoshioka. Dengan kematian Matashiciro , perguruan Yoshioka hancur.Hingga saat ini, bekas pertempuran Musashi di Ichijoji dijadikan monumen oleh masyarakat Jepang.

Setelah Musashi meninggalkan Kyoto, beberapa sumber menceritakan bahwa dia pergi ke Hozoin di Nara, untuk melakukan serangkaian duel sambil belajar ilmu bela diri dari para biarawan di sana, yang secara luas dikenal sebagai pakar-pakar dengan senjata tombak.

Dari 1605-1612, ia melakukan perjalanan secara ekstensif di seluruh jepang di Musha Shugyo, seorang prajurit ziarah di mana ia mengasah keahliannya dengan duel. Dia dikatakan telah digunakan bokken atau bokuto di duel sebenarnya. Sebagian besar perjanjian dari kali ini tidak mencoba untuk mengambil hidup lawan kecuali keduanya sepakat, tetapi dalam banyak duel, diketahui bahwa Musashi tidak peduli senjata yang digunakan musuh-Nya – seperti itu adalah penguasaan.

Pada tahun 1607, Musashi berangkat dari Nara ke Edo (Tokyo), semasa perjalanan Musashi menewaskan praktisi Kusarigama, Shishido Baiken. Di Edo, Musashi mengalahkan Muso Gonnosuke. Catatan duel pertama ini dapat ditemukan di kedua dokumen tradisi Shinto Muso-ryu dan Hyōhō Niten Ichi-ryu (aliran Miyamoto Musashi ). Catatan Shinto Muso Ryu menyatakan bahwa, setelah dikalahkan oleh Musashi, Muso Gonnusuke mengalahkan Musashi dalam sebuah pertandingan ulang.Secara keseluruhan , Musashi telah melakukan 60 duel dan tidak terkalahkan.

Versus Sasaki Kojiro
Pada April 13, 1612, Musashi berusia sekitar 30 tahun. Musashi melakukan duel paling legendaris melawan Sasaki Kojiro yang lebih populer pada masa itu. Musashi datang terlambat ke pulau Funajima, di utara Kokura. Duel itu berlangsung singkat , Musashi menewaskan Sasaki Kojiro dengan bokken yang di pahat selama perjalanan ke pulau. Keterlambatan Musashi mengulang kisah “Yoshioka” dan sangat kontroversial. Pendukung Sasaki menuduh Musashi tidak menghormati perjanjian.

Musashi juga memasukkan bagian dari psikologis lawan dalam seni perangnya. Di satu kasus dia datang terlambat untuk membuat lawan menunggu dan akhirnya kecemasan datang. Di kasus lain , Musashi datang lebih awal untuk mempelajari medan pertempuran. Ada teori lain yang menyebut keterlambatan Musashi juga memperhitungkan unsur alam , seperti arah sinar matahari. Sasaki Kojiro dalam pertempuran yang menewaskannya ini juga terkena serangan psikologis dan juga posisi yang tidak menguntungkan karena arah sinar matahari.

Shogunate Tokugawa

Setelah melewati periode pertarungan (terakhir melawan Sasaki Kojiro) dan peperangan tersebut, Musashi melakukan perjalanan kembali di tengah kesimpangsiuran sejarah mengenai Musashi. Ada versi lain yang menyebutkan keterlibatan Musashi dalam Konflik Tokugawa dengan Klan Toyotomi yang sedang berada di pengasingan. Makin lama Klan Toyotomi mulai mengumpulkan kekuatan kembali dan di anggap oleh Tokugawa sebagai ancaman bagi perdamaian yang telah berhasil di ciptakan di seluruh negri.

Pada tahun 1615 ia memasuki layanan Ogasawara Tadanao (小 笠原 忠直) Provinsi Harima, di undangan Ogasawara, sebagai “Construction Supervisor,” setelah sebelumnya memperoleh keterampilan dalam kerajinan. Dia membantu membangun Akashi Benteng dan pada tahun 1621 untuk meletakkan luar organisasi kota Himeji. Dia juga mengajar seni bela diri selama tinggal, yang mengkhususkan diri dalam instruksi dalam seni shuriken-melempar. Selama periode ini pelayanan, ia mengadopsi anak.

Pada tahun 1621, Musashi mengalahkan Miyake Gunbei dan tiga ahli lainnya dari Togun-ryu di depan penguasa Himeji. Pada saat ini, Musashi mengembangkan sejumlah murid untuk Enmei-ryu. Di masa mudanya, Musashi telah menulis sebuah gulungan Enmei-ryu dan berisi tulisan tulisan teknik pedang Enmei-ryu “(Enmei-ryu Kenpo sho).円 / “En” berarti “lingkaran” atau “kesempurnaan”; 明 / “mei” berarti “cahaya” / “kejelasan”, dan 流 / “ryu” berarti “sekolah”. Nama diambil dari ide memegang dua pedang dengan cahaya sehingga membentuk lingkaran. Teknik yang di kembangkan adalah teknik dua pedang.

Pada tahun 1622, anak angkat Musashi, Miyamoto Mikinosuke menjadi pengikut Himeji. Dan Musashi memulai petulangan di Edo pada tahun 1623, di mana ia menjadi teman dengan sarjana Neo-Konfusian Hayashi Razan, yang merupakan salah satu penasehat Shogun. Musashi diplot untuk mengabdi kepada Shogun, tapi Shogunate Tokugawa saat itu sudah memiliki dua ahli ilmu pedang , Ono Jiroemon Tadaaki dan Yagyuu Munenori. Dia meninggalkan Edo di arah Oshu, berakhir di Yamagata, di mana ia mengadopsi anak kedua, Miyamoto Iori. Kedua kemudian melanjutkan perjalanan, akhirnya berhenti di Osaka

Musashi Beranjak Tua
Pada tahun 1633 Musashi mulai tinggal bersama Hosokawa Tadatoshi, daimyo Kumamoto. Di masa ini Musashi juga sempat mengalahkan spesialis tombak , Takada Matabei. Musashi resmi menjadi pengikut Klan Hosokawa pada tahun 1640. Dengan upah 300 koku, 17 pengikut dan kediaman di benteng Chiba.
Pada bulan kedua 1641, Musashi menulis sebuah karya yang disebut Hyoho sanju Go ( “Tiga puluh lima Petunjuk Strategi”) untuk Hosokawa Tadatoshi; Sementara itu anak angkatnya yang ketiga , Hirao Yoemon menjadi pejabat tinggi di perdikan Owari.

Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati atas falsafah Kendo. Setelah sempat meluangkan waktu beberapa tahun untuk mengajar dan melukis di Kuil Kumamoto. Tahun 1643 Musashi kemudian pensiun dan menyepi di gua Reigendo. Sebagai seorang pertapa dia mulai intensif menulis Kitab Lima Lingkaran. Buku ini adalah buku seni perang yang berisi strategi perang dan metode duel, dan selesai di bulan kedua tahun 1645. Menjelang wafatnya , Musashi mewariskan harta dan salinan naskah Go Rin No Sho kepada murid terdekatnya , Terao Magonojo. Namun oleh peneliti barat, buku ini dianggap rujukan untuk mengenal kejiwaan dan pola berpikir masyarakat Jepang. Buku ini menjadi klasik dan dijadikan rujukan oleh para siswa Kendo di Jepang. Musashi dianggap sedemikian hebatnya sehingga di Jepang ia dikenal dengan sebutanKensei, yang berarti Dewa Pedang. 

Musashi meninggal dunia di gua Reigandō sekitar 13 Juni 1645. Musashi tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan, tapi ia mempunyai seorang anak angkat sekaligus murid yang juga masih saudara sepupunya bernama Iori Miyamoto.

Pada saat kematiannya, Musashi telah mengencangkan ikat pinggangnya dan meletakkan wakizashi di dalamnya. Dia duduk dengan satu lutut vertikal mengangkat, memegang pedang dengan tangan kiri dan tongkat di tangan kanannya. Ia meninggal dalam posisi ini, pada usia enam puluh dua. Pengikut utama Hosokawa dan perwira lainnya berkumpul dan melaksanakan upacara. Kemudian mereka mendirikan sebuah makam di Gunung Iwato atas perintah Hosokawa.



Epilog
Musashi menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar Buddhisme dan ilmu pedang. Dia adalah seorang master seni untuk karya seninya. Musashi adalah seorang pematung , ahli kaligrafi , seorang arsitektur. Musashi mengikuti sisi artistik Bushido . Dia juga membuat berbagai lukisan bergaya Zen. Dalam Go Rin No Sho , Musashi menegaskan bahwa seorang samurai harus memahami profesi lain.

Buku Go Rin No Sho merupakan salah satu warisan bagi Jepang Modern. Sebuah karya art of war yang terus di pelajari hingga saat ini.

Studi kehidupan dan hasil karya Musashi masih tetap relevan pada masa kini, karena mencakup taktik dan strategi yang dapat diaplikasikan untuk berbagai kegiatan praktis seperti periklanan, bisnis, dan militer. Berbagai produk budaya seperti film dan buku sastra juga tetap diminati masyarakat, diantaranya yang terkenal ialah buku karya penulis Eiji Yoshikawa dan film karya sutradara Hiroshi Inagaki. Inspirasi yang diberikan oleh Musashi tidak saja terjadi pada masyarakat Jepang, tetapi juga pada masyarakat dari berbagai penjuru dunia.



1 comment: